Ingin Maknai Kenangan, Cobalah untuk Tidak Memotret

museum
sumber: washington.org

Kita semua tahu, jika semua orang di seluruh dunia mengunggah lebih dari 1 juta foto per hari, demi menjaga memori yang akan dinikmati di masa depan. Tapi, ternyata ada sebuah pernyataan mengejutkan dari seorang podcaster teknologi, Manoush Zomorodi, bahwa mengambil foto di momentum tertentu justru malah menghalangi atau mendistraksi ingatan kita. Ketika dunia telah memasuki era obesesi teknologi, mengambil foto memang bukan lagi jadi hal aneh.

Salah satu alasan mengapa kita mengambil foto saat tempat pertama, adalah untuk mengingat momentum tersebut setelah sekian lama berlalu. Sebut saja, kelahiran bayi, reuni, pernikahan dan lainnya. Tahun 2015, Manoush melakukan proyek Bored & Brilliant, di mana ia menantang orang-orang (dengan lebih dari 200 ribu pendengar Note to Self) untuk melepaskan diri dari ponsel untuk meningkatkan kreativitas.

Ketika, ia mensurvei partisipan, banyak yang memotret lantaran ditujukan sebagai “kenang-kenangan”. Namun, setiap kali mereka memotret sesuatu dengan cepat, saat itu pula mereka menyadari ingatan yang tak berbekas. Dalam sebuah studi, para murid diminta mengambil foto setiap obyek di museum, dan hasilnya mereka mengingat lebih sedikit seluruh obyek yang telah difoto tersebut.

Seorang profesor psikologi di Fairfield University di Connecticut, Linda Henkel mengkaji bagaimana saat seseorang mengambil foto berdampak pada pengalaman dan ingatan mereka. Kajian itu dilakukan terhadap sekelompok mahasiswa saat kunjungan ke Bellarmine Museum of Art. Sebagian mahasiswa diminta mengambil gambar obyek-obyek yang mereka lihat dan sisa yang lain hanya bertugas mengamati obyek saja.

Di hari berikutnya, Linda membawa para mahasiswa itu ke lab penelitian untuk mengetes ingatan mereka tentang obyek-obyek yang dilihat selama tur museum. Ketika mereka, berupaya mengingat sedikit-dikit, ia menanyakan pertanyaan tentang detil visual secara lebih spesifik. Hasilnya, secara umum mereka hanya mengingat lebih sedikit obyek yang difoto. Bahkan, mereka tidak mampu mengingat visual detil dalam obyek foto itu, dibandingkan dengan mereka yang benar-benar fokus pada pengamatan obyek saja.

“Ketika kamu mengambil foto sesuatu, kamu hanya menghitung dan menimbang kamera saja. Tapi, kamu sebetulnya tak mampu berinteraksi secara emosional terhadap obyek di sekitar yang membantu mengingat pengalaman, karena fokus sepenuhnya tercurahkan ke kamera,”kata Linda.

Dengan kata lain, kamera memang menangkap dan mengabadikan sebuah momentum, tapi tidak dengan pikiran mereka. Menurut Linda, kamera memang teknologi luar biasa, namun tak akan pernah bisa dibandingkan dengan kemampuan pikiran, mata, dan telinga untuk merasakan pengalaman dan memaknai sesuatu.

Sumber:  Bored and Brilliant: How Spacing Out Can Unlock Your Most Productive and Creative Self by Manoush Zomorodi. Published by St. Martin’s Press. Copyright © 2017 by New York Public Radio.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *