Misteri Stonehenge Sudah Terungkap?

Inggris adalah salah satu negara di Eropa yang banyak memiliki lokasi wisata bersejarah. Salah satunya yang  ternama adalah monumen batu raksasa Stonehenge yang berlokasi di dataran berkapur di utara kota modern Salisbury, Inggris. Berdasarkan penelitian, situs tersebut terus mengalami perkembangan selama periode 10 ribu tahun. Struktur “Stonehenge” dibangun sekitar 4000-5000 tahun lalu, dan menjadi bagian pemandangan besar yang dinilai suci bagi banyak orang itu.

Stonehenge merupakan satu bagian dari pemandangan besar di mana terdapat banyak bebatuan dan struktur kayu menyerupai kuburan. Para arkeolog, menemukan fakta perburuan prehistoris yang menggiring ke Stonehenge. Para ilmuwan juga memprediksi dataran Salisbury sebagai area suci sejak lama sebelum konstruksi Stonehenge ada.

stonehenge
dok.englishheritage

Puluhan gundukan ditemukan di sekitar Stonehenge mengindikasikan mungkin ratusan atau bahkan ribuan orang dikuburkan di masa lalu. Setidaknya, ada 17 kuil, beberapa membentuk lingkaran, juga ditemukan di sekitar Stonehenge. Sebuah “rumah kematian” ditemukan dekat Stonehenge yang kira-kira telah ada sejak 3700 SM. Sekitar 5500 tahun lalu, dua tembok dari tanah untuk pertahanan yang dikenal monumen cursus didirikan di sekitar Stonehenge, di mana jadi terpanjang sekitar 1,8 mile (3 km). Sedangkan, 5300 tahun lalu juga dibangun kacamata kayu berbentuk pagar  besar yang ditetapkan terang benderang selama upacara di Avebury dekat Stonehenge. Namun, sekitar 4600 tahun lalu, lingkaran dobel dibuat menggunakan lusinan batu biru di situs tersebut.

Lalu, untuk apa sebenarnya Stonehenge dibangun oleh orang-orang di masa lalu? Banyak teori yang sebetulnya menjelaskan alasan pendirian Stonehenge. Arkeolog dari Universitas Birmingham, Vincent Gaffney mengemukakan, hal itu jadi bagian dari pemandangan kompleks antara kegiatan upacara prosesi dan ritual di sekitarnya di mana banyak orang dalam perjalanan kemudian berdatangan ke Stonehenge.

Salah satu teori tentang Stonehenge yang dirilis tahun 2012, oleh anggota Stonehenge Riverside Project, menunjukkan bahwa Stonehenge merupakan tanda “persatuan Inggris,” di mana orang-orang menyebrang ke pulau, saling bekerja sama, dan menggunakan gaya rumah, peralatan gerabah, dan perlalatan yang serupa. Hal itu turut menjelaskan, mengapa mereka mampu membawa batu biru sepanjang jalan dari Wales Barat dan bagaimana para pekerja dan sumber daya untuk konstruksi dikerahkan.

“Stonehenge sendiri menjadi pekerjaan besar, membutuhkan banyak tenaga kerja untuk bergerak dengan batu sejauh dari Wales Barat, membentuk dan mendirikannya. Hanya pekerjaan ini yang membutuhkan keterlibatan semua orang, di mana kemudian menjadi sebuah tindakan penyatuan,”kata Profesor Universitas Sheffield Mike Parker Pearson.

Kepopuleran Stonehenge di Inggris ternyata juga menginspirasi seniman di Indonesia untuk turut mewujudkan pemandangan serupa. Di antaranya, anda bisa menemui Stonehenge ala Indonesia di Bali, Yogyakarta, dan Bondowoso.

stonehenge bali
Stonehenge ala Bali dekat Pantai Purnama dok. pepo

Stonehenge di Bali merupakan konsep arsitektur yang dibuat salah satu restoran yang ada di wilayah Gianyar. Tumpukan batu ini  sebenarnya adalah pelinggih yang biasa digunakan masyarakat setempat untuk menaruh sesajen sembahyang. Lokasi ini pun kerap menjadi favorit wisatawan untuk mengabadikan foto lantaran pemandangan alamnya yang memang indah di Pantai Purnama.

Beda lagi di kawasan Merapi, meski buatan tangan, strukturnya menyerupai batu sungguhan yang disusun seperti Stonehenge di Inggris. Letaknya berada di Dusun Petung, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Stonehenge kini menjadi tujuan wisata alternatif selain menikmati panorama Gunung Merapi.

Nah, seperti halnya peninggalan Stonehenge di Inggris, batu-batu raksasa yang ada Bondowoso ini juga merupakan situs pennggalan zaman megalitikum sekitar 2500 tahun SM. Stonehenge yang pertama ada di Indonesia ini  tepatnya berada di kawasan perbukitan Desa Solor, Kecamatan Cermee, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.

Sumber: Livescience.com/idntimes

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *