Cincin Kawin yang Tak Lagi Sekedar Pengikat Janji

 

cincin kawin
dok. yourweddinmemories

Siapa menyangka jika selebriti Hollywood ternama Mila Kunis dan Ashton Kutcher menikah hanya dengan sebuah cincin seharga 90 dolar atau setara Rp 1 juta saja? Kunis sendiri menyampaikan hal itu saat menjadi bintang tamu Conan di kanal TBS, bahwa cincin pernikahannya memang dibeli di sebuah situs marketplace barang handmade, Etsy.

Menurut Kunis, ia memang mencari cincin dengan lapisan tipis berbasis platina, namun rata-rata cincin seperti itu mahal, hingga akhirnya ia mendaratkan perhatiannya pada sebuah cincin di Etsy. Kendati demikian, hal itu tak mengurangi makna sakral pernikahan mereka.

Memilih sebuah cincin untuk hari spesial bisa jadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus membingungkan bagi sebagian orang. Tentunya, cincin dengan desain ciamik yang mampu merefleksikan status dan kepribadian menjadi mimpi bagi tiap pasangan di dunia. Lewat sebuah cincin saja, nyatanya mampu menyiratkan sesuatu yang lebih dari sekedar sinyal cinta dan janji suci;

Simbol sebuah hubungan

Lantaran sebuah pernikahan idealnya adalah sekali seumur hidup, maka cincin yang menjadi pengikat janji suci juga harus memiliki nilai yang abadi. Sekian dekade, industri perhiasan telah membuat sebagian besar kita berpikir bahwa harga sebuah cincin harus merefleksikan nilai emosional sebuah hubungan. Alhasil, rata-rata wanita di Barat memakai cincin pernikahan seharga 2000 dolar (atau sekitar Rp 20 juta) di jari manisnya. Maka, salah satu solusinya, adalah pilih cincin pusaka keluarga. Menggunakan cincin peninggalan orang tua tentu tak hanya menghemat biaya, namun juga bisa menguatkan hubungan generasi kedua, selain hubungan berdua dengan pasangan.

Kontrak sosial

Benarkah jika pernikahan adalah urusan berdua? Tidak juga. Ketika anda menikah, maka akan dilegalkan tak hanya oleh hukum agama, tapi juga hukum negara. Kala mengikat janji, maka anda dan pasangan juga berjanji pada masyarakat dan negara. Begitu pula, cincin yang dikenakan akan menjadi simbol bagi orang-orang bagian masyarakat dan menerima hukum tersebut.

Mengomunikasikan kepribadian

Apa pun benda yang kita gunakan, sudah seyogyakan mampu mengomunikasikan siapa diri kita. Namun, jika melihat di pasaran, mungkin kita akan disajikan desain cincin pernikahan yang terlihat mirip. Maka, ada baiknya mencari cincin yang bisa merefleksikan kepribadian sekaligus identitas sosial sebagai seseorang yang telah menikah agar bisa dipakai setiap hari.

Status dan kepercayaan

Tak jarang sebuah status bisa direfleksikan dari seberapa tinggi harga yang harus dikeluarkan. Dua pakar budaya material Douglas dan Isherwood mengatakan, “semakin efektif ritual menggunakan benda material, maka makin mahal ritual tersebut, maka makin kuat pula kita mengasumsikan tujuan dan maknanya. Dengan kata lain, hampir di seluruh dunia, perayaan sosial yang paling penting, selalu dirayakan dengan benda-benda mahal.

Nilai ekonomi

Di banyak kebudayaan, seperti India, perhiasan emas merupakan bentuk asuransi. Secara umum, emas memiliki nilai. Jadi saat kondisi krisis, emas tersebut bisa dijual. Namun, sebuah cincin pernikahan memiliki nilai sentimentil sebagai asuransi, karena semakin benda itu penting bagi seseorang, maka semakin kecil kemungkinan untuk dijual, kecuali benar-benar saat mengalami krisis.

Artikel oleh Erin B Taylor dilansir dari PopAnth.com

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *