Esteem & Belonging7 Sinyal Ini Buktikan Jika Kamu dan Dia Sudah Siap Menikah - Sagu Hati

March 16, 20171

Ketika seseorang sudah memasuki usia matang 25 tahun ke atas, pertanyaan semacam “Ayo, udah waktunya nikah loh, atau “Kapan nikah?” itu mungkin tak akan bisa dihindari bagi sebagian orang.

Ya, pertanyaan semacam itu mungkin akan jadi momok bagi kamu yang masih jomblo, tapi jika saat ini anda sudah memiliki pasangan, mungkin sudah waktunya berpikir tentang pernikahan.

Sayangnya, tidak semua pasangan merasa harus segera mengakhiri masa lajang karena berbagai alasan tertentu, misalnya belum siap punya anak, atau masih ingin mengejar karir. Ya, menikah memang bukan sekedar menjalani peran sosial semata, tetapi juga untuk berjuang bersama sampai maut memisahkan.

Tak heran, berbagai pertimbangan kerap dijadikan alasan mengapa banyak pasangan atau mungkin salah satu pasangannya yang belum mau berkomitmen dalam ikatan pernikahan.

Apakah kamu termasuk yang masih ragu berkomitmen dalam ikatan pernikahan? Tapi, jika kamu dan pasangan sudah mengalami masa seperti ini, mungkin memang sudah saatnya anda melangkah ke jenjang lebih serius ;

Kamu dan dia lebih suka berkata “kita” dibanding “saya”

menikah

Kamu kerap berpikir untuk selalu bisa menghabiskan tiap momentum bersamanya, tak hanya sehari, sebulan, setahun, bahkan seumur hidup. Kamu lebih merasa optimistis memikirkan masa depan, membuat rencana jangka panjang, dan kerap melibatkannya dalam berbagai urusan.

Kamu lebih suka berkata “kita” saat bercakap dengannya, lebih menikmati saat menghabiskan hari berdua saja, dibandingkan menghabiskan waktu semalaman hingga dini hari di tempat hiburan malam.

Ketika hampir semua teman dekat  sudah menikah

menikah
dok. glitzmedia

Menerima kabar teman-teman kamu yang akan menikah, tentunya membuat kita sebagai teman dekatnya ikut bahagia juga. Mungkin juga kamu kerap bertanya pada mereka, di mana catering yang enak, venue yang nyaman, fotografer andal dan tetek bengek lainnya tentang dunia pernikahan.

Mungkin saja anda tak mengakui secara terbuka bahwa ingin menikah, tetapi secara tak sadar, kamu sebetulnya telah melibatkan diri dalam peran sebagai calon pengantin 😉

Dia tahu segalanya tentang kamu

siap menikah

Kamu bisa dengan nyaman berbagi segala perasaan dan emosi dengannya, begitu pun, sebaliknya ia mampu mendengarkannya dengan baik. Dia pun tahu segalanya tentang anda, alergi makanan apa, artis favorit, bahkan hal-hal kecil tentang apa yang kamu suka atau tidak.

Kamu kerap berkomunikasi dengan orang-orang terdekatnya

menikah
dok. expertbeacon

Menghabiskan waktu bersama orang-orang terdekatnya, seperti orang tua, keluarga, atau teman-teman pasangannya sudah tak canggung lagi bagi kamu. Kamu pun paham, bahwa mendekatkan diri dengan lingkungan pasangan, tak hanya sekedar menguatkan hubungan kamu dan dia, tetapi juga untuk mengerti mengenai psikologis pasangan kamu lebih baik. Begitu pula dengannya, ia selalu menerima anda masuk dan menjadi bagian dari lingkungannya.

Ketika seks bukan lagi jadi prioritas utama

menikah
dok. imgur

Seperti yang sebelumnya disebutkan, menikah tidak hanya sekedar menjalani fungsi peran sosial, seks dan memiliki keturunan belaka, tetapi untuk berjuang bersama. Kamu dan pasangan sangat memahami, bahwa daya tarik fisik hanya sementara saja. Seiring berjalannya waktu, kamu tak dapat menyangkal perubahan fisik yang perlahan terjadi satu sama lain.

Ketika kamu sadar betul, bahwa daya tarik fisik dan seks bukanlah segalanya, melainkan nilai dan “ chemistry” yang anda miliki berdualah yang menentukan jalan panjang ke depan. Maka, inilah waktu yang tepat menikah dan menghabiskan sisa perjuangan hidup bersama.

Anda selalu percaya padanya

menikah

Ia kerap lama membalas pesan teks kamu, ia terlalu sibuk untuk menghabiskan waktu bersama di akhir pekan karena tugas pekerjaan menumpuk, ia sesekali datang terlambat saat janjian kencan. Namun, alasan-alasan itu tak menjadikan kamu selalu bersikap curiga terhadapnya.

Tanpa drama dan baper, anda benar-benar percaya pada pasangan kamu. Seperti yang kerap dikemukakan para psikolog, kepercayaan adalah fondasi kehidupan keluarga yang bahagia.

Anda sering berlibur bersamanya

menikah

Ketika kamu dan pasangan sama-sama menikmati  melewati waktu bersama, di mana saja tentu saja ini menjadi sinyal kuat berikutnya. Kamu bisa melewati waktu akhir pekan bersama di sebuah sanatorium, pantai, tempat-tempat rekreasi, bahkan hanya di sebuah rumah makan sederhana.

Kamu dan dia mampu saling memahami, tahu bagaimana saling menghargai ruang personal masing-masing, serta tujuan hidup masing-masing. Tanpa nuansa yang terbangun ini, tentu akan sulit membangun keluarga bahagia.

Bagaimana, kamu sudah merasakan memiliki semuanya? Tunggu apa lagi, mungkin ini saatnya  🙂

One comment

  • Nur Fauzi

    March 17, 2017 at 2:27 am

    Ketika seseorang sudah memasuki usia yang cukup matang, menurut saya memang sebaiknya segera menikah!

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *